Jumat, 25 April 2008

Peningkatan Kesadaran Kehidupan Berbangsa Melalui Hiburan Yang Terprogram

Pemuda adalah tulang punggung pembangunan bangsa ini. Ketika punggung itu telah digerogoti dan mengalami osteoporosis, maka makin lambat perjalanan bangsa ini menuju kemajuan seperti nenek-nenek lansia. Osteoporosis tersebut disebabkan oleh kurangnya kesadaran akan kehidupan berbangsa (kalsium). Kurangnya responsibility anak-anak bangsa terhadap kondisi yang menimpa bangsa ini. Pemuda-pemuda lebih tertarik pada bagaimana agar kehidupanya bisa berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan. Surabaya adalah kota metropolis kedua yang bisa dikatakan menjadi barometer kedua bagi laju kemajuan bangsa. Seyogyanya pemerintah kota surabaya telah menyiapkan sedemikan rupa pemuda-pemudanya untuk lebih bisa berkarya.
Pada masa sekarang, pengaruh budaya asing telah merebak dalam kehidupan masyarakat Surabaya. Hedonisme dan gaya hidup, perlahan namun pasti telah menggerogoti tulang punggung bangsa (baca:pemuda). Kita lihat saja, ketika pada saat malam hari disepanjang Balai Kota, beratus-ratus pemuda “berhamburan”saling menikmati malam yang panjang. Mereka bergerombol dengan sesama “spesies”nya (baca : segolongan). Ada yang mengindentitaskan diri dengan komunitas motor, ada yang memunculkan eksistensi dengan “mode”pakaian yang sama, dadandanan yang sama. Ada pula yang kelupaan membedakan antara wanita atau laki-laki yang sama-sama memakai “tindik” ditelinga. Kurang puas ditelinga hingga dicoba dibagian yang lain seperti penyanyi india (hidung) atau dibibir. Dan disela-sela itu selalu anak anak-anak jalanan yang sudah menyiapkan tangan menunggu dan berharap ada yang memberinya sepeser uang atau makanan.
Pada malam itulah dimana saat para pemuda bangsa ini melepaskan penat setelah satu minggu disibukkan dengan berbagai macam kesibukan mulai dari kuliah, sekolah, belajar mengajar, dan lain sebagainya. Tidak salah apabila mereka mencairkan “kejenuhan”dalam pikirannya. Kesibukan belajar disekolah maupun kuliah pun sebenarnya masih belum bisa mengakomodasi pemenuhan kebutuhan bangsa ini pada pemuda-pemuda. Terlalu banyak anak-anak yang “terpaksa”belajar disekolah atau perguruan tinggi karena tuntutan dari orang tua atau karna mengejar status kesarjanaannya saja untuk batu loncatan mencari kerja. Masih dibutuhkan sebuah upaya yang mewadahi keinginan mereka untuk bersenang-senang (baca: refreshing) sekaligus memberikan sebuah pemahaman tentang kehidupan berbangsa. Tentang nasionalisme, hiburan yang mampu menjelaskan kepada mereka tentang jumlah tetesan air mata bangsa ini yang terlanjur turun dengan sia-sia.
Dan tak lupa pula mereka-mereka yang melupakan keberadaan “es dawet” dan “es teler” karena lebih suka meminum-minuman dari tetangga sebelah (baca: minuman keras) dengan memiliki kadar alkohol yang lebih dari 10 %. Mungkin dalam pemahaman mereka akan lebih “stylis” bila meminum-minuman tetangga dari pada minum air buatan rumah sendiri.

Butuh Hiburan Yang Mendidik
Surabaya sebagai kota pahlawan, itulah kenyataan yang telah memudar dipikiran para arek-arek Suroboyo saat ini. Maka Pemkot seharusnya bisa menyediakan fasilitas hiburan yang terprogram, terarah dan mengandung sebuah pembelajaran. Acara-acara hiburan yang dihelat jangan hanya mengandalkan goyangan pinggang seorang penyanyi, namun sebenarnya bisa bila dilakukan oleh tokoh yang paham seni dan kondisi bangsa. Salut buat Cak Nun dengan Bang-Bang Wetan-nya yang mampu mengajak semua elemen kota Surabaya dan sekitarnya untuk sadar diri terhadap kondisi bangsa. Acara serupa dengan menghadirkan lawakan atau ceramah ustad lokal yang mampu menyedot perhatian para remaja pun seharusnya bisa dilakukan dengan pola yang jelas dan berkelanjutan. Penanaman nasionalisme bangsa bisa dilakukan dengan memberikan selingan tarian budaya bangsa. Sehingga para pemuda yang menikmati malam minggu diBalaikota tidak hanya menikmati “asmara” picisan yang hanya berisi canda tawa. Penyampaian pesan yang mendidik akan lebih mudah tersampaikan lewat media yang disukai oleh penerima pesan. Dengan hiburan yang terprogram, akan dapat membuka pikiran dan kesadaran tentang kehidupan berbangsa dengan lewat pintu “otak kanan” yang selama ini kurang terjamah pada dunia pendidikan Indonesia.
Dari kegiatan yang terprogram dan terencana akan dapat sedikit banyak mendidik para pemuda arek-arek Surabaya. Dari sini dapat diupayakan sebuah mekanisme pendidikan yang tidak hanya mengandalkan kursi dan papan tulis diruangan kelas. Namun lebih menjadikan segala lini kehidupan mampu dijadikan wahana untuk saling mendidik. Pemuda arek-arek Suroboyo yang ditunggu-tunggu untuk dapat mengembalikan semangat juang 10 Nopember dalam membela bangsa. Karena pemuda adalah harapan bangsa. Pemuda adalah tulang punggung bangsa ini. Pemuda jangan sampai mengalami Osteoporosis dini dengan terpengaruh oleh budaya-budaya asing yang tidak berguna. Janganlah pemuda menjadi pencuri budaya hedonisme dengan meniru-niru budaya asing yang tidak jelas.

Tidak ada komentar: